Selamat Datang di MWC NU Dringu

Merawat Jagad Membangun Peradaban

sekretariat

Setiap Jaman Ada orangnya. Setiap orang ada jamannya.

Manut Kyai NU, Berilmu, Beramal, dan Berakhlakul Karimah

Manut Kyai NU, Jalan Sukses Penuh Berkah dan Rahmat Allah

Bekal Generasi Muda NU

Pengenalan Aplikasi Society 5.0 Generasi Penerus NU

BUKU TAMU

Nama

Email *

Pesan *

Sabtu, 06 Mei 2023

Mengenang kembali Resepsi 1 Abad NU

 


Assalamualaikum Wr. Wb:

Hari Selasa 7 Februari 2023 lalu, MWC NU Dringu ikut serta dalam acara Napak Tilas Peringatan 1 Abad NU yang diadakan di GOR Sidoarjo, Jawa Timur. Acara ini diselenggarakan sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan terhadap perjalanan panjang NU selama 100 tahun. Sayangnya saya tidak bisa ikut karena masih dalam suasana berduka meninggalnya putriku Allaahummaghfirlaha warhamha wa’aafi ha wa’fu anha Rachmi Irianti S. (Alfateha).
Dalam acara tersebut, ribuan warga Nahdliyin dari berbagai daerah di Indonesia menuju Jawa Timur berkumpul untuk mengikuti berbagai kegiatan. Acara ini menjadi momen yang sangat berarti untuk mengenang perjalanan panjang NU, dari awal berdirinya hingga menjadi organisasi Islam terbesar di Indonesia saat ini.
MWC NU Dringu berharap, acara Napak Tilas Peringatan 1 Abad NU ini dapat memotivasi dan menginspirasi kita untuk terus memperjuangkan Islam dan kesejahteraan umat, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para pendiri NU selama 100 tahun ini.
Peristiwa menyejarah ini sayang kalau dilupakan. Hari ini Minggu 7 Mei 2023 sekretariat MWC NU Dringu tergerak untuk merepost kembali peristiwa yang membanggakan ini di laman facebook MWC NU Dringu. Pemirsa bisa menikmatinya di sajian berita-beritanya di: https://www.nu.or.id/tag/satu-abad-nu
Mari kita terus menguatkan peran NU dalam memajukan Islam dan kesejahteraan umat, demi mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Kamis, 08 April 2021

Arti Lambang NU

 Arti Lambang NU (Nahdatul Ulama)


Lambang Nahdlatul Ulama terdiri dari :

1.        Globe (bola dunia), melambangkan bumi tempat manusia hidup dan mencari kehidupan yaitu dengan berjuang, beramal, dan berilmu. Bumi mengingatkan bahwa manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah serta dikeluarkan dari tanah pada hari kiamat.

2.        Peta Indonesia yang terlihat pada globe, melambangkan bahwa NU berdiri di Indonesia dan berjuang untuk kekayaan negara RI.

3.        Tali bersimpul yang melingkari globe, melambangkan persatuanyang kokoh dan ikatan di bawahnya melambangkan hubungan manusia dengan Allah SWT. Untaian tali berjumlah 99, melambangkan Asmaul Husna agar manusia hidup bahagia di dunia dan akhirat.

4.        Bintang besar, melambangkan kepemimpinan nabi Muhammad SAW. Empat bintang di atas garis katulistiwa melambangkan kepemimpinan Khulafaur Rosyidin (Abu bakar Shiddiq, Umar bin Khotob, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib). Empat di bawah garis katulistiwa melambangkan empat madzab (Imam Syafi’i, Maliki, Hambali, dan Hanafi). Jumlah bintang ada 9 melambangkan Walisongo.

5.        Tulisan arab “Nahdlatul Ulama” membentang dari kanan ke kiri, menunjukkan nama organisasi yang berarti kebangkitan para Ulama.

6.        Warna dasar hijau melembangkan kesuburan tanah air Indonesia, Sedangkan tulisan berwarna putih melambangkan kesucian.

Bedasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa NU adalah organisasi keagamaan yang setia mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW. dan para sahabat, menganut salah satu madzhab empat serta sebagai kelanjutan dari perjuangan Walisongo dalam berdakwah islam di Indonesia.

Sumber: https://nu-nkri.blogspot.com/

Tujuan NU

Tujuan NU

Tujuan Nahdlatul Ulama adalah berlakunya ajaran Islam yang menganut faham Ahlussunnah wal Jama'ah untuk terwujudnya tatanan masyarakat yang berkeadilan demi kemaslahatan, kesejahteraan umat dan demi terciptanya rahmat bagi semesta.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, maka Nahdlatul Ulama melaksanakan usaha-usaha sebagai berikut:

  1. Di bidang agama, mengupayakan terlaksananya ajaran Islam yang menganut faham Ahlussunnah wal Jamaah.
  2. Di bidang pendidikan, pembangunan dan kebudayaan mengupayakan terwujudnya penyelenggaraan pendidikan dan pengelolaan serta pengembangan kebudayaan yang sesuai dengan ajaran Islam untuk membina umat agar menjadi Muslim yang takwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas dan trampil, serta berguna bagi agama, bangsa dan negara.
  3. Di bidang sosial, mengupayakan dan mendorong pemberdayaan di bidang kesehatan, kemaslahatan dan ketahanan keluarga, dan pendampingan masyarakat yang terpinggirkan ( mustadl'afin) ).
  4. Bidang ekonomi, mengupayakan peningkatan pendapatan masyarakat dan lapangan kerja / usaha untuk kemakmuran yang merata.
  5. Mengembangkan usaha-usaha lain melalui kerjasama dengan pihak dalam maupun luar negeri yang bermanfaat bagi masyarakat banyak guna terwujudnya Khairul Ummah .

Mengenal Pedoman, Aqidah dan Asas Nahdlatul Ulama

Mengenal Pedoman, Aqidah dan Asas Nahdlatul Ulama

Pedoman

Nahdlatul Ulama berpedoman kepada Al-Qur'an, As-Sunnah, Al-Ijma 'dan Al-Qiyas.

Aqidah

Nahdlatul Ulama beraqidah Islam menurut faham Ahlussunnah wal Jama'ah; dalam bidang aqidah mengikuti madzhab Imam Abu Hasan Al-Asy'ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi; dalam fiqih mengikuti salah satu dari madzhab empat (Hanafi, Maliki Syafi'i dan Hanbali); dan dalam bidang tasawuf mengikuti madzhab Imam Al-Junaidi Al-Bagdadi dan Abu Hamid Al-Ghazali.

Asas

Dalam Kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia Nahdlatul Ulama berasas kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

 

Pedoman

Nahdlatul Ulama berpedoman pada Alquran, As-Sunnah, Al-Ijma 'dan Al-Qiyas.

Aqidah

Nahdlatul Ulama memiliki keyakinan Islam menurut ideologi Ahlussunnah wal Jama'ah; di bidang aqidah mengikuti mazhab Imam Abu Hasan Al-Asy'ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi; dalam fikih mengikuti salah satu dari empat mazhab pemikiran (Hanafi, Maliki Syafi'i dan Hanbali); dan di bidang tasawuf mengikuti mazhab Imam Al-Junaidi Al-Bagdadi dan Abu Hamid Al-Ghazali .

Prinsip

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, Nahdlatul Ulama berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Sumber: https://pwnujatim.or.id/

Sikap Kemasyarakatan NU

Nahdlatul Ulama (NU) menganut paham Ahlussunah Wal Jama'ah, sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrim naqli (skripturalis). Karena itu sumber pemikiran bagi NU tidak hanya Al-Qur'an, Sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan ditambah dengan realitas empirik. Cara berpikir semacam itu dirujuk dari pemikir terdahulu, seperti Abu Hasan Al-Asy'ari dan Abu Mansur Al-Maturidi dalam bidang teologi. Kemudian dalam bidang fikih mengikuti empat Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali. Sementara dalam bidang tasawuf, mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi, yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat.

Gagasan kembali ke Khittah pada tahun 1984, merupakan momentum penting untuk menafsirkan kembali ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah, serta merumuskan kembali metode berpikir, baik dalam bidang fikih maupun sosial. Serta merumuskan kembali hubungan NU dengan negara. Gerakan tersebut berhasil membangkitkan gairah gairah dan dinamika sosial dalam NU.

Sumber: www.nu.or.id

Paham Kegamaan NU

Paham Kegamaan NU

Nahdlatul Ulama (NU) menganut paham Ahlussunah Wal Jama'ah, sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrim naqli (skripturalis). Karena itu sumber pemikiran bagi NU tidak hanya Al-Qur'an, Sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan ditambah dengan realitas empirik. Cara berpikir semacam itu dirujuk dari pemikir terdahulu, seperti Abu Hasan Al-Asy'ari dan Abu Mansur Al-Maturidi dalam bidang teologi. Kemudian dalam bidang fikih mengikuti empat madzhab; Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali. Sementara dalam bidang tasawuf, mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi, yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat.

Gagasan kembali ke khittah pada tahun 1984, merupakan momentum penting untuk menafsirkan kembali ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah, serta merumuskan kembali metode berpikir, baik dalam bidang fikih maupun sosial. Serta merumuskan kembali hubungan NU dengan negara. Gerakan tersebut berhasil membangkitkan gairah gairah dan dinamika sosial dalam NU.

Sumber: https://pwnujatim.or.id/

Sejarah NU

Sejarah NU

Kalangan pesantren gigih melawan kolonialisme dengan membentuk organisasi pergerakan, seperti Nahdlatut Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada tahun 1916. Kemudian tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan Nahdlatul Fikri (Kebangkitan Pemikiran), wahana pendidikan sosial politik kaum dan kaum santri. Selanjutnya didirikanlah Nahdlatut Tujjar, (Pergerakan Kaum Sudagar) yang dijadikan dasar untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagi kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.

Sementara itu, keterbelakangan, baik secara mental, maupun ekonomi yang menguntungkan bangsa Indonesia, akibat penjajahan atau akibat kungkungan tradisi, menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Gerakan yang muncul 1908 tersebut dikenal dengan Kebangkitan Nasional. Semangat kebangkitan memang terus menyebar ke mana-mana – setelah rakyat sadar diri terhadap penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain, sebagai jawaban, muncullah berbagai organisasi pendidikan dan rehat.

Ketika Raja Ibnu Saud yang sedang menerapkan asas tunggal yakni mazhab wahabi di Mekah, serta menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam maupun pra-Islam, yang selama ini banyak diziarahi karena asas bi'dah. Gagasan kaum wahabi yang mendapat perlakuan hangat dari kaum modernis di Indonesia, baik kalangan Muhammadiyah di bawah pimpinan Ahmad Dahlan, maupun PSII di bahwah pimpinan HOS Tjokroaminoto. Malah, kalangan pesantren yang selama ini menolak keberagaman, menolak kebenaran yang bermadzhab dan penghancuran warisan peradaban tersebut.

Sikapnya yang berbeda, kalangan pesantren yang dikeluarkan dari anggota Kongres Al Islam di Yogyakarta 1925, akibatnya kalangan pesantren juga tidak dilibatkan sebagai delegasi dalam Mu'tamar 'Alam Islami (Kongres Islam Internasional) di Mekah yang akan mengesahkan keputusan tersebut.

Didorong oleh minatnya yang gigih untuk menciptakan kebebsan bermadzhab serta peduli terhadap pelestarian warisan peradaban, maka kalangan pesantren udah membuat delegasi sendiri yang dinamai dengan Komite Hejaz, yang diketuai oleh KH. Wahab Hasbullah.

Atas desakan kalangan pesantren yang terhimpun dalam Komite Hejaz, dan tantangan dari segala penjuru umat Islam di dunia, Raja Ibnu Saud mengurungkan niatnya. Hasilnya hingga saat ini di Mekah bebas dilaksanakan ibadah sesuai dengan madzhab mereka masing-masing. Itulah peran internasional kalangan pesantren pertama, yang berhasil memperjuangkan kebebasan bermadzhab dan berhasil menyelamatkan peninggalan sejarah serta peradaban yang sangat berharga.

Berangkat dari komite dan berbagai organisasi yang bersifat embrional dan ad hoc, maka setelah itu dirasa perlu membentuk organisasi yang lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka setelah berkordinasi dengan berbagai kiai, akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini dipimpin oleh KH. Hasyim Asy'ari sebagi Rais Akbar.

Untuk prisip dasar orgasnisai ini, maka KH. Hasyim Asy'ari merumuskan Kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I'tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalam Khittah NU, yang dijadikan dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik.

Sumber: www.nu.or.id